AMANAT AYAH
Sebuah jip yang
kami tumpangi sangat cepat larinya. Tiap kali membelok di sebuah tikungan tubuh
kami seperti didorong kearah yang berlawanan dengan arah tikungan. Jalanan
sangat sepi. Dan tiga orang yang ada di dalam jip inipun selalu membisu seakan
sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku lihat jam tanganku menunjukkan pukul
sebelas lewat seperempat. Angin masuk dari pintu jip dan bertiup sangat kencang
mengacaukan sisiran rambut dan kadang terasa seperti akan melepaskan kancingan
baju.
Sekira pukul sebelas tadi aku baru saja membaringkan tubuh
di dipan. Hampr tiga tahun aku berbaring di dipan itu. Mula-mula terasa agak
sakit dipunggung karena dipan itu tidak berkasur, hanya tikar mendong lebar
yang dilipat jadi dua, seukuran dipan itu. Barangkali karena terlalu banyak
duduk punggng dan pantat terasa pegal-pegal. Sebulan lagi aku harus menempuh
ujian akhir. Dan sejak aku memasuki sekolah SMA negeri ini, ayah selalu
mendorongku agar aku selalu belajar
giat. Ayah menginginkan apabila aku lulus besok melanjutkan ke fakultas hukum.
Ayah menginginkan kelak aku bekerja sebagai jurist atau pengacara.
Lampu belum kupadamkan. Aku mengambil selimut lurikku dan
kututupkan pada separo badan bagian bawah untuk mengurangi hembusan angin yang
bertiup dari jendela yabg tidak bisa ditutup rapat karena engselnya sudah
rusak. Tiba-tiba sebuah kendaraan bermotor berhenti di jalan depan rumah
pondokan. Aku mendengar langkah-langkah kaki bersepatu memasuki halaman depan
melewati jalan masuk berkerikil. Kemudian ketokan pintu. Aku bangun kembali.
“Engkau Tikto!” Suara itu seperti medesakku ke sebuah
sudut. Aku terkejut sehingga tidak segera menjawab.
“ Mari
pulang dulu nak”, kata pamaNku lagi.
“Ada apa
paman?”
“Ayahmu
meminta engkau pulang. Lekaslah berganti pakaian. Beberapa potong yang lain
engkau bawa juga untuk ganti di sana”.
Aku kira perjalanan ke rumah telah melampaui separo jarak.
Dan kalau perhitungan ini benar berarti kami harus melalui jarak dua puluh
kilometer lagi. Dalam perjalanan ini pikiranku sangat kacau. Barangkali kalau
sesekali kami bercakap-cakap, kerusuhan pikiran ini akan berkurang. Tapi di
antara kami, aku dan dua pamanku di dalam jip ini tidak seorangpun hendak
memulai berbicara. Pada hal satu pertanyaan besar selalu memukul di dadaku.
Suara-suara yang gemuruh di dada ini sesekali terasa lebih kuat dari suara
motor jip.
Kira-kira dua bulan yang lalu aku pulang ke kampung. Tidak
suatupun yang perlu aku pikirkan. Ayah sebagai biasa. Setiap hari kerja ayah
selalu masuk meskipun luka kakinya belum sembuh. Sebenarnya luka itu sudah
mendalam. Tapi ayah kuatkan juga pergi bekerja denga naik becak. Selain luka di
kakinya, akhir-akhir ini menurut ibu, ayah kadang sakit demam. Tapi ketika aku
pulang, ayah tetap gemuk. Dan satu sifat ayah yang aku kagumi ialah
kegembiraannya. Ayah selalu gembira, ketawa-tawa dan kadang bergurau dengan
Totok adikku yang terkecil.
Tapi sekarang aku diminta pulang. Dan yang meminta ialah
ayah sendiri. Adakah sesuatu yang
terjadi di rumah? Pikirku. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Kalau tidak
ada apa-apa yang luar biasa, paman tidak
akan menjemputku pada malam-malam begini. Tengah malam begini aku disuruh
pulang. Pasti ada yang terjadi. Barangkali ibu sakit? Atau salah seorang adikku
yang aku sayangi mendapat suatu kecelakaan? Pertanyaan-pertanyaan demikian
selalu berdesakkan di kepalaku. Dan dadaku makin gemuruh.
“Paman, apa yang terjadi di rumah, Paman!” kukeraskan
suaraku setelah mulutku mendekati telinganya. Tapi paman hanya menggelengkan
kepala dan pandangannya terus ke depan menembus kegelapan, mengikuti lampu jip
yang tidak begitu terang..
“Nantilah di rumah,” kata Paman pendek. Dan kami membungkam
kembali. Jip meluncur terus. Suasana sekitar sepi sekali sehingga suara motor
merajai jalanan yang kami lewati. Lampu jip cuma mampu menembusi sejauh
beberapa meter. Sekali-sekali di sebelah-menyebelah jalan yang kami lewati
tampak tanaman tebu atau sawah yang membentang tanpa tanaman, atau barangkali
hanya baru ditumbuhi bibit kecil sehingga seperti sawah yang kosong. Dan baru
saja kami melewati sebuah padang dengan pohon-pohon jati yang rimbun. Aku ingat
cerita ayah beberapa tahun yang lalu ketika zaman pendudukan Belanda. Kaum
gerilya kerapkali menghadang konvoi-konvoi serdadu Belanda di hutan jati ini.
Di jalanan yang melewati hutan jati yang kecil ini sering terjadi pertempuran.
Dan apabila kaum gerilya tidak tahan terhadap serangan konvoi musuh, dengan
mudah gerilya itu mundur dengan menyeberangi sungai Sampeyan di belakang hutan
kecil itu. Semua mereka akan aman dari kejaran musuh.
Seekor kucing melintas cepat di depan jip. Tapi ia tidak
mengganggu jalan kami. Dan paman yang mengemudikan jip terus mengencangkan
perjalanan.
Kami sampai di rumah. Jip membelok ke kanan, ke halaman
rumah. Dari dalam jip aku tidak dapat melihat dengan jelas keadaan dalam rumah.
Segera aku turun. Dari halaman terdengar suara adikku menangis. Suara tangis
Tini dan Nduk. Siapakah yang mereka tangisi? Ibukah? Atau ayah? Atau Totok,
adikku paling kecil itu? Ataukah dik Pang sakit lagi? Aku bergegas menaiki
tangga depan. Hatiku gelisah. Dari pintu aku lihat beberapa orang duduk di
amben. Ketika aku masuk ke ruang tengah itu mereka tidak mengatakan apa-apa,
dan cuma memandangku. Pandangan mereka terasa seperti hendak mengatakan sesuatu
yang tertahan.
Aku terus ke kamar, desah tangis terkurung di dalamnya.
Ayah terbaring di dipan, dikelilingi ibu, bibi dan adik-adikku. Ibu memberi
tempat untukku. Aku tertegun beberapa saat melihat wajah ayah yang pucat dalam
keremangan sinar lampu petromak.
“Ini Tikto datang. Mas,”
kata ibu. “Ini Tikto”. Suara Ibu agak bernada tinggi. Tapi ayah tidak
berkata sepatah pun. Ayah tidak lagi kuat untuk berkata-kata. Pandangannya
sesekali meredup, tidak bersinar, sesekali memejam dan diam agak beberapa
detik.
“Ayah,”
kataku lirih, kupegang tangannya, dingin sekali.
“Ayah,”
ulangku lagi. “Aku, yah. Aku Tikto.”
Sebentar
mata ayah terbuka dan memandang ke sekitar, tidak langsung menatapku. Tapi
pandangannya begitu lemah.
Ibu
menyuruh aku berdoa.
“Mengajilah
juga,” kata bibi.
Aku diam.
Aku tidak melakukan suruhan ibu ataupun bibi. Hatiku gelisah dan bingung.
Bagaimana aku harus melakukannya? Kemudian bibi menyuruh memanggil tetangga,
seorang guru mengaji.
“Ayah,” desahku lagi. Tiada kusadari air mataku keluar dari
ujung mata dan menuruni pipi. Hangat terasa. Air mata hangat dengan hati yang
dingin.
Ayah. Ayah, suara hatiku,
seakan hendak mengadu. Mengapa tidak ayah memberikan kepadaku sesuatu
yang berharga bagi ayah saat keadaan ayah seperti sekarang? Mengapa ayah tidak
pernah memberi sebuah kitab yang aku bisa gunakan untuk keselamatan perjalanan
ayah seperti sekarang ini? Ayah, suara
hatiku lagi. Ayah telah memberiku bermacam-macam buku. Setiap Ayah pergi ke
kota selalu singgah di toko buku dan membelikan aku bermacam buku pengetahuan
Buku sejarah dunia, sejarah Indonesia, KUHP, buku ilmu bumi, buku bahasa
Inggris. Dan ayah masih menjanjikan sebuah buku Engelbrecht, Sosiologi, dan
buku-buku Hukum Internasional, agar studiku di fakultas kelak dapat lancar dan
cepat lulus dengan gelar Sarjana Hukum. Dan ayah mendorongku agar melanjutkan
terus sehingga aku benar-benar ahli dalam ilmu hukum
Ayah, suara hatiku lagi. Kenapa ayah tidak pernah
menunjukkan secara khusus sebuah kitab yang aku bisa gunakan untuk pengiring
perjalanan ayah?
Ayah tahu sekarang, aku tidak bisa berbuat banyak untuk
membantu Ayah dalam perjalanan yang
sangat jauh ini, bila suatu saat nanti Ayah harus melakukannya. Buku-buku yang
ayah belikan untukku tak satu pun yang berguna malam ini walaupun saya yakin
bahwa buku-buku itu akan bermanfaat bagi pendidikanku kelak. Suatu hari ketika
pulang liburan semester, Ayah bercerita.
Ayah punya seorang
kenalan di kota. Ia seorang Sarjana Hukum dan mempunyai profesi sebagai Advokat
atau Pembela untuk orang-orang yang berperkara atau diperkarakan di pengadilan.
“Ia seorang yang
kaya karena pekerjaannya. Rumah besar dan bagus. Dua buah mobilnya juga bagus.
Dan tentu sangat mahal. Kalau engkau kelak menjadi advokat, aku tidak
mengharapkan engkau menjadi orang kaya seperti banyak advokat di kota,” Setelah
ia berdiam diri sejenak, seolah sedang menyusun kalimat-kalimat yang sempurna
untuk menyampaikan pendapatnya, ia meneruskan.
“Sebagai advokat, aku ingin agar engkau bertindak sesuai
dengan suara hati nurani. Kalau menurut suara hati nuranimu, seseorang itu
perlu dibantu atau dibela karena ia dikhianati, dianiaya atau didzalimi orang
lain, engkau harus tampil untuk membelanya, untuk melindunginya. Umumnya orang
yang mendzalimi orang kecil itu punya kedudukan tinggi, atau mempunyai hubungan
dengan orang berpangkat, atau punya banyak uang. Orang yang didzalimi itu
rakyat yang tidak punya pelindung,
jarang ada orang yang bisa membelanya. Banyak kejadian seperti itu. Bahkan juga
Pemerintah yang mestinya melindungi hak milik rakyat biasa, juga tidak malu
untuk untuk merampok dan merampas hak milik mereka. Dengan dalih untuk
kepentingan umum, tanah rakyat yang dimiliki secara turun menurun warisan dari kakek-nenek moyang, mereka di
usir, digusur, dan harus pindah ke daerah lain. Tanah mereka memang dibeli tapi
dihargai sangat murah, jauh di bawah harga pasaran. Tentu saja mereka tidak
bisa membeli tanah lagi untuk digarap sebagai sumber mata penghidupan mereka.
Dari tanah yang dibeli secara paksa itu kemudian dibuat lapangan golf,
supermarket atau pertokoan besar, yang menjual barang-barang keperluan
sehari-hari dengan harga jauh lebih mahal daripada di pasar kampung. Kalau
ingin meningkatkan kebersihan dan kesehatan atau apa pun alasan pemerintah,
mengapa bukan di lokasi pasar
tradisional itu saja dibangun pasar yang bersih, sehat dan aman?
Orang yang haknya terampas semacam itulah yang harus
dibela, dilindungi, dibantu kalau kelak kau menjadi advokat. Maklum, sebagian
besar warga masyarakat belum mencapai tingkat pendidikan umum yang baik.
Apalagi pendidikan tentang hukum yang antara lain mengatur kedudukan seseorang
di hadapan hukum, dan bahwa setiap orang mempunyai hak dan kewajiban sebagai
warga negara. Dan kondisi sebagian masyarakat yang demikian itu benar-benar
dimanfaatkan oleh para advokat yang gila kekayaan itu untuk menjerumuskan
mereka. Advokat itu mau membantu dengan melirik lebih dahulu kantong dan status
orang yang akan dibantu. Bila mereka tidak punya dana besar, jangan berharap
akan memperoleh keadilan di depan hukum. Hingga saat ini keadilan itu sungguh
mahal dan sangat mustahil bisa dijangkau oleh mereka yang tidak punya dana
untuk menyuap pejabat–pejabat di pengadilan. Dan kalau engkau membantu orang-orang
yang tidak punya itu, benar-benar dengan
ikhlas, jangan mengharapkan mendapat imbalan apa-apa. Advokat yang kaya-raya
itu acapkali pinter membolak-balik kenyataan, pinter “bersilat
lidah” untuk melindungi klien mereka.
Maksudku, kata Ayah, orang yang nyata-nyata salah menurut
akal sehat, dengan kelihaian berbicara mereka dibela sehingga perkaranya
menang, terhindar dari penjara dan pembelanya dapat bayaran banyak. Coba
perhatikan, para penguasa yang jelas-jelas menggaruk kekayaan negara selama tiga
puluh tahun sehingga keluarganya menjadi
kaya raya, para Advokat yang keblinger itu masih mau juga membela mereka.
Menurut mereka, Advokat yang mata duwitan itu, pengusaha itu juga
berjasa membangun negara dan bangsa, membangun jalan tol, gedung-gedung tinggi
dan mewah, menata kota sehingga bagus, mendirikan pabrik, dan lain sebagainya.
Ketika mereka tengah berkuasa, memang begitu kelihatannya.
Rakyat tidak kesulitan untuk membeli pakaian dan makanan yang mereka inginkan
dengan harga relatif murah. Tapi pembangunan itu dibiayai pemerintah dengan
cara berhutang ke negara-negara kaya yang berlagak seolah menjadi dewa
penolong, “murah hati” kepada Pemerintah.
Untung, tiga puluh tahun kemudian ada segolongan orang yang
berani bahkan nekad membuka kebobrokan perilaku mereka yang sedang berkuasa.
Memang, sesudah terbuka kedok mereka
yang curang itu, kehidupan rakyat kecil
bukannya menjadi sejahtera. Malah menjadi terhempas ke dalam jurang yang terasa
sangat sulit untuk bangkit berdiri menggapai dataran di atas jurang itu .
Kehidupan bangsa ini terasa seperti akan hancur, barang-barang keperluan
sehari-hari sangat mahal hampir tidak terjangkau oleh orang-orang melarat di
desa dan di kota. Kalau saja sekelompok
orang pemberani itu baru bangkit enampuluh tahun kemudian dan kecurangan
penguasa itu baru terbuka, masya Allah, pasti bangsa dan negara ini sudah
mengalami kiamat kubra.
Mereka, para penguasa curang itu dalam tiga puluh tahun
sudah menyiapkan kader dan calon-calon pengganti mereka yang terdiri dari
anak-anak dan cucu-cucu mereka, konco-konco mereka serta anak cucu konco-konco
mereka, yang mempunyai watak dan tabiat sama dengan penguasa itu. Mereka
berbuat demikian supaya kecurangannya tidak diketahui oleh orang atau kelompok
lain yang tidak sepaham.Hal seperti itu pasti akan mereka lakukan sepanjang
generasi agar borok dan kecurangan mereka tidak diketahui umum. Yah persis
seperti negara kerajaan. Penguasa-penguasa
macam begitu lah yang mereka bela mati-matian. Apakah para Advokat itu
tidak punya moral, tidak punya hati nurani yang bisa membedakan benar dan
salah, baik dan buruk? Aku tidak bisa mengerti.”
Ayah berhenti berbicara. Aku juga diam, tidak menanggapi
nasihat yang persis seperti khotbah di
masjid. Aku tidak mampu memberi komentar kecuali mencoba mencocokkan pendapat
Ayah itu dengan kenyataan di masyarakat.
Aku masih berstatus sebagai murid kelas
dua SMU ketika Ayah menyampaikan pandangan-pandangnnya. Tetapi beberapa
teman-teman di sekolah akhir-akhir ini mulai sering berdiskusi tentang situasi dan kondisi negara
ini. Dan secara garis besar memang banyak samanya. Selama itu tidak pernah
anak-anak SMU berani demo di jalanan
atau kantor pemerintah. Kalau ada murid-murid yang demo, beberapa jam kemudian
Kepala Sekolah itu di pecat.
“Bukan, sekali lagi,
bukan Advokat macam begitu yang aku inginkan padamu, Ingat-ingat itu. Ini
amanatku. Amanat itu, apalagi dari orang tua, harus kau laksanakan kelak, pada
waktunya. Bukan saran atau usul bahkan bukan sekadar nasihat biasa, tetapi
Amanat, yang mesti kau genggam erat dalam pikiran dan hati nuranimu. Dan kau
laksanakan. Seorang yang diberi Amanat, dan mengabaikannya, orang tua-tua
bilang bisa mencelakakan.” Waktu itu aku
memang berdoa mudah-mudahan amanat Ayah bisa aku wujudkan.
Tapi kini, di hadapan kami malam ini, Ayah terbaring
lemah. Ketika aku berada di sampingnya,
tangannya kugenggam Terasa dingin sekali. Ia menatapku dengan cahaya mata yang
redup. Aku tidak pasti apakah ia masih mengenalku sebagai anak pertama,
laki-laki, yang ketika beliau masih
sehat dengan sangat bersemangat seringkali menyampaikan pandangan dan
harapannya kepadaku .
Seorang Kyai yang dipanggil tadi masuk. Seorang guru
mengaji yang setiap pagi dan sore memberi pelajaran membaca kitab suci. Kyai
itu mendekati ayah kemudian membuka sebuah kitab kecil dan mulai mengaji:
Yaasin, Yaasin, wal kur’anil hakim. Suaranya rendah dan khusyuk. Aku mengikuti bacaan itu dalam hati,
sebisanya..
Hatiku sangat sedih, malam ini, saat Ayah terbaring lemah
seolah beliau tidak akan lagi melihat matahari pagi esok hari. Seharusnya kami,
anak-anaknyalah yang mengaji, dan berdoa
untuk keselamatan ayah. Semestinya kamilah yang mengaji dan berdoa agar ayah
menemukan kedamaian dalam perjalanannya ini. Tapi kami tidak bisa mengaji
dengan baik. Ayah tidak mendorongku secara khusus agar aku bisa mengaji dan
memahami Kitab Suci. Barangkali karena pengalaman Ayah sering diperlakukan
tidak manusia sebagai warga negera merdeka, beliau lebih mendorongku untuk giat belajar agar kelak aku
menjadi seorang Sarjana Hukum yang mampu membantu orang kecil sebagaimana
layaknya warga negara yang terjamin hak-haknya tapi juga tahu dan sadar akan
kewajibannya.
Tak apalah ayah. Aku masih muda. Aku belum terlambat.
Selesai ujian bulan depan, aku berjanji pada diri sendiri, aku akan mempelajari
Ilmu Hukum seperti yang Ayah harapkan tapi juga akan mendalami Al Qur’an dan
Hadis Rasulullah. Menurut pelajaran agama di sekolah memang pernah dikatakan
oleh Guru bahwa kedua kitab itu juga
menjadi sumber untuk menegakkan hukum demi kemaslahatan di dunia mapun di
akhirat. Guru itu selesai mengaji. Kemudian dia berdoa lalu didekatkannya
mulutnya ke telinga ayah seperti membisikkan sesuatu. Aku juga diminta untuk
melakukan hal yang sama dan diminta untuk membisikkan surat Al Fatikhah berikut
doa dengan bahasa sendiri agar perjalanan Ayah mendapat bimbingan dari Allah
subhanahu wa taala.
Aku terus berdoa, membaca lagi surat Al Fatikhah, surat Al
Ikhlas, dan surat pendek lainnya .Sekali lagi aku di diminta untuk membisikkan
dua kalimat syahadat ke telinga ayah., sebelah kanan dan kiri
Pukul setengah tiga malam itu, ayah menghembuskan nafas
yang terakhir. Kembali aku membaca surat Al Fatihah beberapa kali. Hatiku
berkata: Inilah Cuma doa yang bisa kusampaikan untukmu, Ayah. Semoga Ayah
memperoleh tempat yang baik di sisi-Nya. Dan aku berusaha dan berjanji untuk
melaksanakan amanat yang telah dititipkan Ayah kepadaku. Insya Allah. ***