Sabtu, 21 April 2012

puisi n Taufik ismail

DENGAN PUISI, AKU

 Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.

1965



Catatan:
Puisi Taufiq Ismail ini, ditulis 1965, adalah yang pertama digubah lagunya oleh Samsudin Hardjakusumah, 1972, dan pertama kali dipentaskan dalam Pertemuan Sastrawan Indonesia, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Desember 1972.

JUAL BELI

Di kiri dan di kanan
Bayi-bayi diperjual-belikan
Perempuan diperjual-belikan.

Di atas  dan di bawah
Gelar-gelar dijual murah-murahan
BUMN dijual murah-murahan.

Di kiri dan di kanan
Pangkat-pangkat diperjual-belikan
Pengadilan diperjual-belikan.

Di atas dan di bawah
Tambang-tambang dijual murah-murahan
Pornografi diobral menggairahkan.

Semua telah terjual
Semua telah tergadai
Semua sudah diobral
Semua sudah selesai.

Masih ada satu barangkali
Yaitu harga diri dan kehormatan
Ketika dicari-cari
Tak ada lagi, tak ada lagi.

Semua telah kau jual
Semua telah kau gadai
Semua sudah kau obral
Semua sudah selesai.

Masih ada satu barangkali
Yaitu harga diri dan kehormatan

Ketika dicari-cari
Tak ada lagi, tak ada lagi
Ketika dicari-cari
Harga diri tak ada lagi.


(Lagu Sam Bimbo, lirik Taufiq Ismail)

KETIKA INDONESIA DIHORMATI DUNIA

Pemilu setengah abad yang lewat
Pemilu sembilan belas lima empat
Pemilu paling bersih dalam sejarah
Pemilu paling indah dalam sejarah

Tak ada satu nyawa melayang
Tak ada satu rumah dibakar
Tak ada permainan sogokan
Tak ada kecurangan
Penghitungan suara

Waktu itu Indonesia
Dihormati dunia
Kita bangsa yang santun dan sopan
Jauh dari kebringasan
Jauh dari keganasan

Waktu itu Indonesia
Dihormati dunia
Kita bangsa yang santun dan sopan
Jauh dari kebringasan
Jauh dari keganasan

2003


(Puisi ini dibacakan di depan seluruh pimpinan partai politik peserta Pemilihan Umum tingkat Pusat, akhir Februari 2004 di KPU Pusat, dan seluruh pimpinan parpol tingkat Jakarta Raya minggu berikutnya di Pekan Raya Jakarta. Lagu Sam Bimbo, lirik Taufiq Ismail)





Taufiq Ismail dilahirkan di Bukittinggi, Sumatra Barat, 25 Juni 1935. Penerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57), dan lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963). Karya-karya penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970 yang juga salah seorang pendiri majalah sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968) ini, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad, penyair yang tinggi sekali perhatiannya pada upaya mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi itu menerjemahkan karya penting Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Sedangkan bersama D.S. Moeljanto, salah seorang seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan ini menyunting Prahara Budaya (1994). Pada tahun 2003 mendapat Dr. HC dari Universitas Negeri Yogyakarta, dan pada tahun 2009 menerima Dr. HC dari Universitas Indonesia. Sejak April 2010 menjadi anggota redaksi Horisononline.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar