DENGAN
PUISI, AKU
Dengan
puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya.
1965
Catatan:
Puisi
Taufiq Ismail ini, ditulis 1965, adalah yang pertama digubah lagunya oleh
Samsudin Hardjakusumah, 1972, dan pertama kali dipentaskan dalam Pertemuan
Sastrawan Indonesia, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Desember 1972.
JUAL BELI
Di
kiri dan di kanan
Bayi-bayi
diperjual-belikan
Perempuan
diperjual-belikan.
Di
atas dan di bawah
Gelar-gelar
dijual murah-murahan
BUMN
dijual murah-murahan.
Di
kiri dan di kanan
Pangkat-pangkat
diperjual-belikan
Pengadilan
diperjual-belikan.
Di
atas dan di bawah
Tambang-tambang
dijual murah-murahan
Pornografi
diobral menggairahkan.
Semua
telah terjual
Semua
telah tergadai
Semua
sudah diobral
Semua
sudah selesai.
Masih
ada satu barangkali
Yaitu
harga diri dan kehormatan
Ketika
dicari-cari
Tak
ada lagi, tak ada lagi.
Semua
telah kau jual
Semua
telah kau gadai
Semua
sudah kau obral
Semua
sudah selesai.
Masih
ada satu barangkali
Yaitu
harga diri dan kehormatan
Ketika
dicari-cari
Tak
ada lagi, tak ada lagi
Ketika
dicari-cari
Harga
diri tak ada lagi.
(Lagu
Sam Bimbo, lirik Taufiq Ismail)
KETIKA INDONESIA
DIHORMATI DUNIA
Pemilu
setengah abad yang lewat
Pemilu
sembilan belas lima
empat
Pemilu
paling bersih dalam sejarah
Pemilu
paling indah dalam sejarah
Tak
ada satu nyawa melayang
Tak
ada satu rumah dibakar
Tak
ada permainan sogokan
Tak
ada kecurangan
Penghitungan
suara
Waktu
itu Indonesia
Dihormati
dunia
Kita
bangsa yang santun dan sopan
Jauh
dari kebringasan
Jauh
dari keganasan
Waktu
itu Indonesia
Dihormati
dunia
Kita
bangsa yang santun dan sopan
Jauh
dari kebringasan
Jauh
dari keganasan
2003
(Puisi
ini dibacakan di depan seluruh pimpinan partai politik peserta Pemilihan Umum
tingkat Pusat, akhir Februari 2004 di KPU Pusat, dan seluruh pimpinan parpol
tingkat Jakarta Raya minggu berikutnya di Pekan Raya Jakarta. Lagu Sam Bimbo, lirik Taufiq Ismail)
Taufiq Ismail dilahirkan di Bukittinggi, Sumatra Barat, 25 Juni
1935. Penerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti
Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57), dan lulus
dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963). Karya-karya
penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970 yang juga salah seorang
pendiri majalah sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968)
ini, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan
Perancis. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963;
bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng (1966;
mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966), Puisi-puisi
Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku
Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi
Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi
Orang Indonesia (1999). Bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad, penyair
yang tinggi sekali perhatiannya pada upaya mengantarkan sastra ke
sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi itu menerjemahkan karya penting
Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Sedangkan
bersama D.S. Moeljanto, salah seorang seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan
ini menyunting Prahara Budaya (1994). Pada tahun 2003 mendapat Dr. HC
dari Universitas Negeri Yogyakarta, dan pada tahun 2009 menerima Dr. HC dari
Universitas Indonesia. Sejak April 2010 menjadi anggota redaksi Horisononline.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar