Sabtu, 21 April 2012

Cooking with love


Memoar Cinta dalam Masakan
Judul:                 Cooking with Love
Penerbit:            Hikmah Publishing

Sebagai perempuan saya tidak menyukai memasak. Daripada menghabiskan waktu di dapur untuk mengulek, merebus dan menggoreng masakan lebih baik jika saya pergi ke food court atau café, memesan sambil membaca buku serta mengobrol berjam-jam bersama teman-teman yang lain. Berbagai kemudahan dalam industri kuliner telah membuat sebagian besar perempuan, termasuk saya sendiri melupakan kenikmatan saat-saat memasak. Pendapat saya berubah ketika melihat buku ini untuk yang pertama kali. Dengan desain yang eye catching, resep-resep pendek, endorsement dari chef Bara Pattiradjawane, serta kata pengantar dari Bondan Winarno. Buku ini memberikan aura yang berbeda dari buku-buku kumpulan resep yang lain.
Bunda Inong adalah sebuah nama dengan jaminan mutu tinggi di dunia kuliner, khususnya dalam komunitas dapur bunda. Berawal dari racikan-racikan resepnya dalam blog dapurbunda.blogspot.com, dia berhasil mematahkan paradigma lama bahwa memasak itu repot, susah dan bau. Dengan ciri khas resep-resep pendek dan praktis, serta ketulusannya untuk menciptakan makanan bagi suami dan anak-anaknya, Zidan dan Syifa, Bunda Inong telah menularkan semangat baru kepada orang lain untuk mulai kembali mencintai kegiatan memasak. Kepergiannya untuk menghadap yang Kuasa di pertengahan tahun 2006 telah mengagetkan banyak orang yang mencintainya. Buku ini, menjadi persembahan dari para sahabat untuk menyebarkan semangat memasak yang selalu diusungnya. Sekaligus juga untuk memperkenalkan Bunda Inong kepada orang-orang yang belum sempat mengenalnya.
Keunikan buku ini karena diambil dari tulisan blog. Oleh karenanya selain resep, pembaca akan menemukan tulisan-tulisan penulis. Baik itu curhatan pribadi, kumpulan karya puisi atau celotehan lucu Zidan. Berikut adalah salah satu tulisannya.
“Bunda, tadi di sekolah Abang di Tanya Bu guru nama panjangnya Abang. Terus nama ayah juga ditanya Bun”
“Oya, Abang bisa jawab?”
“Iya, Abang bilang nama Ayah: Muhammad Hani.”
“Lho kok Muhammad Hani, kan Muhammad Haris?”
“Iya, abis kan Bunda kalau panggil Ayah ‘Hani….. Hani….’ gitu Bun” (hal. 82)
Selain tulisan yang lucu maupun sedih, pembagian resep pun berbeda dari buku lain karena dibagi menjadi tiga bab. Bab pertama adalah Me and My self, sebagai kumpulan resep favorit Bunda Inong. Bab Love them adalah kumpulan resep favorit keluarga serta bab terakhir adalah love you, yaitu kumpulan resep favorit untuk sahabat-sahabat.
Pada akhirnya ketika membaca buku ini kita tidak hanya akan dibawa untuk belajar mempraktekkan resep-resep masakan akan tetapi juga belajar untuk mengenal hidup Bunda Inong Haris yang sangat singkat namun penuh makna. Gajah mati meninggalkan gading maka Inong Haris meninggalkan rasa cintanya kepada masakan. Sebuah memoar yang tidak biasa dari orang-orang yang mencintainya sebagai anak, istri, ibu, sahabat serta guru memasak.

Maryani Koswara
Librarian Sekolah Cikal





Tidak ada komentar:

Posting Komentar