Memoar Cinta dalam Masakan
Judul: Cooking with Love
Penerbit: Hikmah
Publishing
Sebagai perempuan saya tidak menyukai
memasak. Daripada menghabiskan waktu di dapur untuk mengulek, merebus dan
menggoreng masakan lebih baik jika saya pergi ke food court atau café,
memesan sambil membaca buku serta mengobrol berjam-jam bersama teman-teman yang
lain. Berbagai kemudahan dalam industri kuliner telah membuat sebagian besar
perempuan, termasuk saya sendiri melupakan kenikmatan saat-saat memasak. Pendapat
saya berubah ketika melihat buku ini untuk yang pertama kali. Dengan desain
yang eye catching, resep-resep pendek,
endorsement dari chef Bara Pattiradjawane, serta kata pengantar dari Bondan Winarno.
Buku ini memberikan aura yang berbeda dari buku-buku kumpulan resep yang lain.
Bunda Inong adalah sebuah
nama dengan jaminan mutu tinggi di dunia kuliner, khususnya dalam komunitas dapur bunda. Berawal dari
racikan-racikan resepnya dalam blog dapurbunda.blogspot.com,
dia berhasil mematahkan paradigma lama bahwa memasak itu repot, susah dan bau.
Dengan ciri khas resep-resep pendek dan praktis, serta ketulusannya untuk
menciptakan makanan bagi suami dan anak-anaknya, Zidan dan Syifa, Bunda Inong
telah menularkan semangat baru kepada orang lain untuk mulai kembali mencintai
kegiatan memasak. Kepergiannya untuk menghadap yang Kuasa di pertengahan tahun
2006 telah mengagetkan banyak orang yang mencintainya. Buku ini, menjadi
persembahan dari para sahabat untuk menyebarkan semangat memasak yang selalu
diusungnya. Sekaligus juga untuk memperkenalkan Bunda Inong kepada orang-orang
yang belum sempat mengenalnya.
Keunikan buku ini karena
diambil dari tulisan blog. Oleh karenanya selain resep, pembaca akan menemukan
tulisan-tulisan penulis. Baik itu curhatan pribadi, kumpulan karya puisi atau
celotehan lucu Zidan. Berikut adalah salah satu tulisannya.
“Bunda,
tadi di sekolah Abang di Tanya Bu guru nama panjangnya Abang. Terus nama ayah
juga ditanya Bun”
“Oya,
Abang bisa jawab?”
“Iya,
Abang bilang nama Ayah: Muhammad Hani.”
“Lho
kok Muhammad Hani, kan
Muhammad Haris?”
“Iya, abis kan
Bunda kalau panggil Ayah ‘Hani….. Hani….’ gitu Bun” (hal. 82)
Selain tulisan yang lucu
maupun sedih, pembagian resep pun berbeda dari buku lain karena dibagi menjadi
tiga bab. Bab pertama adalah Me and My self,
sebagai kumpulan resep favorit Bunda Inong. Bab Love them adalah kumpulan resep favorit keluarga serta bab terakhir
adalah love you, yaitu kumpulan resep
favorit untuk sahabat-sahabat.
Pada akhirnya ketika
membaca buku ini kita tidak hanya akan dibawa untuk belajar mempraktekkan
resep-resep masakan akan tetapi juga belajar untuk mengenal hidup Bunda Inong
Haris yang sangat singkat namun penuh makna. Gajah mati meninggalkan gading
maka Inong Haris meninggalkan rasa cintanya kepada masakan. Sebuah memoar yang
tidak biasa dari orang-orang yang mencintainya sebagai anak, istri, ibu,
sahabat serta guru memasak.
Maryani Koswara
Librarian Sekolah Cikal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar